Saat Melepas

Semula sudah kuduga cerita ini tak sepanjang novel
Tak pula sepelik roman
Memang ada klimaks bahkan sejak intro. Alurnya pun relatif datar
Dengan setting nanar tanpa latar
Tak ada naskah karena semua berjalan tanpa skenario

Alih-alih casting, memilih tokoh yang tampak saja sudah lebih dari cukup
Scene-nya tak butuh hitungan
Take berapa pun dijalankan

Dengan sutradara sang Khalik
Ada kepantasan di setiap episode yang diwajarkan karena memang kita penuh keterbatasan

***
Sebentar lagi ending
Tersentak dengan ujung yang samar
Ada ragu, menahannya tetap berlanjut
Meskipun narasi episode makin hancur
Atau melepas saja hingga cerita perhenti pada “copy right 2011”

Syawal, 1432H
Saat melepas harus tuntas

Advertisements

Merajang Jiwa

Coba sekali
Meggoreskan talus
Berapa kali mengurai keji
Berapa sering mengumbar mungkar

Coba sekali
Menggeser sempoa
Seacap apa nista terbuat
Seacap apa kalap melindap

Coba sekali
Mematut tanggal
Sesering apa merajang bangkang
Sesering apa asyik mengusik

Coba sekali
Menatap berlalu masa
Sekerap apa maksiat dibuat
Sekerap apa umpat terucap

***
Lalu…
Berhentilah sejenak pagi ini
Menyesapi embun sisa semalam
Sebasah apa landai pipi
Seresah apa jiwa menyesali

Dan…
Nikmatilah saat gerimis
Perlahan menetes tangis
Sekuat apa mengazam niat
Selantang apa tekad bertobat

Hingga…
Setiap hari hanya seri
Meningkahi ridhoNya di sanubari
Sepantas sosok sang nabi
Selayak penerima syurga hakiki

Angkot M11
Medio Juni, mencoba menyatukan kembali jiwa-jiwa terajang

“Saya Murni, Pak”

Sepagi ini semua telah dikemas dengan baik. Hasil audit kali ini cukup melegakan. Wajar Tanpa Pengecualian. Jarang-jarang lho seperti ini. Yang ada biasanya kami disuguhi aneka tawaran, menikmati makanan dan wisata lokal. Bukan apa-apa, hanya agar bisa sedikit lebih lunak.

Boarding time. Masih menyisakan penat minggu ini. Kami duduk berjejer. “Kamu bawaan siapa?”
“Bawaan ibu dan bapak saya Pak. Tapi lebih berat ibu sih. Mata, hidung, dan gaya bicara saya bawaan dari ibu banget.”

“Lho lho, bukan itu maksud saya Ni.”
“Oh, maksudnya gimana Pak?”
“Kamu masuk sini bawaan siapa?”
“Saya murni Pak.”

“Wah, becanda kamu, iya saya tau kamu Murni. Murni Bening Setiawati. Itu nama lengkap kamu kan.”

“Iya Pak, terus Pak?”
“Ya kamu diterima di sini atas bawaan siapa, orang tua, pak de, bibi, atau siapa gitu..”
“Iya Pak, saya murni, tidak dibawa siapa pun. Bahkan kerabat dan teman saya saja tidak ada yang bekerja di kementerian ini Pak.”

“Wah, ndak percaya saya. Apalagi kamu ditempatkan di direktorat ‘basah’ yang jadi incaran orang-orang di sini. Kamu tau si Bandu, Rancy, dan Sosri? Mereka itu anak-anak eselon 1 dan 2 di kementerian ini. Kalau tidak, mana mungkin mereka bisa diterima dan ditempatkan di sini.”

***
Murni berlalu, setelah mengambil semua barang2 bagasinya. Memilih naik damri dari bandara menuju kosnya di kawasan padat perkantoran ibu kota negeri ini.

***
Itu baru satu, ada banyak Murni lain yang dianggap diterima bekerja karena bawaan atau titipan ‘tangan lentur’ instansi atau perusahaan tempat mereka bekerja. Padahal mereka lulus dengan kemampuan sendiri. Harapan sendiri. Otak sendiri. Dan do’a sendiri.

Memang tak banyak mungkin, meskipun slogan bersih dan transparan sudah digembor-gemborkan dimana-mana. Tapi tetap saja ‘pelicin’ dan ‘titipan’ yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan mengisi posisi-posisi baru.

Bagi yang benar-benar ‘bawaan’ atau ‘titipan’ segera buktikan bahwa memang mampu menempati posisi tersebut. Bungkam ocehan miring dengan prestasi, kinerja, dan integritas.

Untuk yang murni tapi dianggap bawaan, biarkan saja. Angin menggonggong kafilah berlalu. Tetap pada bekerja sebaik-baiknya. Mutiara akan tetap berkilau meskipun ditenggelamkan lumpur. Berkaryalah, berbuatlah, dan berbagilah. Semua akan tau juga, sekarang atau nanti.

*inspiring by curcol sahabat dan saudara yang dianggap diterima di tempat kerjanya karena titipan, bukan kemampuan.  “Kami murni pak.”

Tiga Titik, Satu Koma

Merayap dalam hujan
Menjamah basah
Mengigau racauan petir menggelegar
Menyamar biru dalam abu-abu

Tertatih menembus hujan
Teremah dalam basah
Terkilau kilatan petir menggelegar
Terkapar biru dalam abu-abu

Dijejal derasnya hujan
Direngkuh dalam basah
Disambar petir menggelegar
Dikulum biru dalam abu-abu

Engkau menangis hujan
Dia kuyup basah
Aku aku ingin gampar  menggelegar
Tuhan bilang dinginkan hatimu seperti laut biru, abaikan rasa abu-abu

Aku, kau, dan dia hanya ingin cepat
Berpikir singkat, main sikat. (Titik)

Tuhan menahan, masih ada jalan, masih ada lagi, ada lagi, (koma)….

Penghujung oktober, merayapi pantura,
Dalam Safari Dharma Raya

Inginku Bukan Maumu

Sekali saja aku mendengar dan menatap setiap lugasnya. Dan aku telah jatuh dalam kesalahan rasa.

Akhir-akhir ini mendadak manja
Selalu mengharap tanggap meski sedang terlelap

Semakin samar
Ingin pergi atau tetap bersama selamanya
Karena kutau rasa yang demikian sempurna
Tak pernah terbayang undur
Dari hadapan senyuman mekarnya
Dari tutur sejuk untaian katanya
Dari tegas sikap pilihannya

Biarkan saja tumbuh mewangi
Bersama rumput liar taman jiwa
Aku akan menjaga dengan caraku
Meskipun kelak tidak bersama
Biarpun bukan untukku

Menunggu bukan pilihan
Biarlah waktuku dilipat dalam batas senja
Senyap dipeluk gelap kian larut
Dan ketika bangun esok
Adamu
Atau
Tak perlu jaga

Lagi…

*random rasa untuk sebuah jiwa

Mengeja Dua Lima

Agak acak. Menakar segala peristiwa dalam garis waktu. Kadang berulang, meski tak jarang hadir ketakterdugaan.

***
Belum tegap berlari, masih cadel mengeja. Bocah itu mendekap erat pundak ibunya. Sesekali mengintip pecahan vas kaca bertaburan di lantai. Setelah itu tak ingat apa-apa lagi.

Kini ia berdiri di depan dua puluh satu pasang mata, mendekap tangan di meja, bersiap mendengar celoteh liburan sekolahnya. Terbata namun lugas. Panjang lebar, tak membosankan. Meskipun belum genap 24 bulan ia berseragam putih merah. Linguistik mendominasi kecerdasan lainnya.

Terkesiap, menyadari narasinya berbeda dengan kebanyakan cerita lain. Ada objek tak sama  yang seharusnya tidak digantikan. Hanya kerutan dahi yang dibawanya pulang, menemui jawaban singkat ibunya: di awan.

***
Ruang tiga kali empat. Papan pohon nyiur dijejer horizontal mengelilinginya. Kasur kapuk di atas bale-bale dengan papan yang sama dengan dindingnya digelar. Celah antara papan ditutupi kertas bungkusan semen agar tak masuk angin malam.

Satu hari sebelum berganti dengan seragam putih biru ia diantar ke ruang itu. Tempat ia bangun saat fajar belum muncul, menimba air dari sumur, mengumpulkan daun kering halaman, dan membakar kayu meliwet sarapan paginya, sebelum menapaki jalan menuju madrasah di bawah bukit rendah penuh ilalang.

Lalu malam, lebih tepatnya hampir pagi, ia kembali ke ruang itu setelah memasukan stik-stik bawang, mengepak rapi dan merekatkannya dengan lampu minyak kecil di pabrik rumahan  persis di belokan jalan kecamatan.

Begitu berulang. Hingga ia dinyatakan sebagai satu dari tiga lulusan terbaik dengan nilai tidak lebih dari enam sekian. Itupun membuatnya girang. Betapa tidak, hampir dua bulan ia dikungkung. Tak boleh sibuk. Demikian dokter melarangnya.

***
Menit ini, di angka orang-orang berebut mengabadikannya sebagai momen terindah, menyatukan dua hati, dua jiwa, dua mimpi. Dan ia masih di ruang tiga kali empat. Hanya kini berada ribuan kilo meter dengan diding yang tak langi nyiur tanpa kertas semen, dan tak perlu menimba dari sumur. Hanya itu bedanya.

Selebihnya tetap sama. Mengawali pagi dan mengakhiri malam dengan segenap jiwa raga. Sesekali ia buka album putih abu-abu. Mendapatinya berujar tentang hari-hari penuh warna. Hingga ia pun kembali lulus sebagai satu dari tiga lulusan terbaik (tak pernah satu-satunya).

Pun saat jambul toganya dipindahkan dari kiri ke kanan (kalau tidak salah ingat), di kampus terbesar negeri ini. Menjalani rutinitas dengan segala idealisme yang sejatinya kadang tak lagi relevan dengan carut marut zaman. Memaksanya memoles, agar tak selamanya bersinggungan keras dengan realita.

***
Empat dekade masa telah dilaluinya kini. Dari putih merah, biru, abu-abu, hingga tak perlu keharusan warna sama. Cerita datang silih berganti. Berbagai peran ia mainkan. Bukan kebanggan atas hasil-hasil yang telah dicapainya, melainkan sebuah titik balik.

Menegaskan kembali adanya di sini. Di ruang yang masih tiga kali empat. hingga benar-benar mengerti akan apa dengan sisa kuota ini. Masihkan terus mengeja, atau akan lancar membaca hingga memahami bahwa tak perlu mencoba segala hitam putih dunia. Karena telah jelas terangnya.

***
Ah, 101010.
Ingin ku dekap semua cinta yang telah hadir selama ini. Bunda, papa, uda, adik2, mbah, nenek, om tante, sahabat, guru, dan rekan semua.
Terima kasih untuk inspirasi, celoteh, do’a dan segenap rasa. aku ingin Allah pun mendekap semua hingga kita terus bersama sampai di SyurgaNya kelak.

Untuk satu jiwa yang selalu menguatkanku. Terbaik bagimu, itu asaku…

Menari di Awan

Menatap tak pernah jemu
Sebab parasmu bagai langit
Semakin dalam kumenghujam
Semakin kuat inginku pada birumu

Kau bergerak, memutar, dan diam
Pada sepoi pasrahkan jiwa
Mengikuti alun melodi
Bercahaya surya

Lincah gerakmu
Tak peduli ruang dan waktu
Karena hanya Dia yang membatasmu
Menyusup dalam setiap ritme
Mengayun

Dan kian kencang
Hingga meliuk
Meringkuk
Tegak kembali
Dan melik lagi

Tak beraturan kurasa
Namun tetap terkesima
Karena setiap gerakmu
Menawar lindap rasaku

Bagiku kau gerak lincah
Bebas, meski kadang terhuyung
Diputar beliung
Mengarak di timur memutar di tenggara
Muson pun tak jarang menyapamu

Tetap kau bergerak
Karena panggungmu terus kokoh
Walau tak dapat disentuh

Dan aku semakin ingin dengan birumu

Oktober 2010